Ringkasan Seni Tertua di Dunia
Shanhaijing (山海经 Shānhǎi Jīng) mungkin merupakan ringkasan kreatif paling dermawan yang pernah ditulis. Ini menggambarkan ratusan makhluk dengan detail yang cukup untuk memicu imajinasi tetapi tidak cukup untuk membatasinya. Seekor burung berwajah manusia. Seekor ular dengan enam kaki dan empat sayap. Binatang seperti kuda dengan kepala putih dan belang harimau. Setiap deskripsi adalah titik awal, bukan gambaran akhir — dan selama dua ribu tahun, para seniman telah mengisi kekosongan tersebut.
Tradisi Klasik
Edisi ilustrasi paling awal dari Shanhaijing berasal dari dinasti Ming (1368–1644), meskipun para ahli percaya bahwa ilustrasi sudah ada jauh lebih awal. Edisi klasik paling terkenal adalah edisi yang disusun oleh Jiang Yinghao pada tahun 1597, yang menetapkan kosakata visual yang diasosiasikan kebanyakan orang dengan makhluk Shanhaijing — gambar garis tinta sederhana dengan anotasi berlabel.
Ilustrasi klasik ini memiliki kualitas yang khas: detailnya presisi namun komposisinya datar. Makhluk ditampilkan dalam profil, tidak berdiri di atas tempat tertentu, dengan ciri-cirinya yang tidak biasa ditampilkan dengan jelas. Tidak ada latar belakang, tidak ada konteks naratif, tidak ada drama. Gayanya lebih mirip dengan panduan lapangan daripada buku seni — yang masuk akal, karena pada dasarnya itulah Shanhaijing. Ini adalah katalog, dan ilustrasinya adalah entri katalog.
Ilustrasi Dinasti Ming dan Qing menetapkan konvensi yang masih menjadi referensi para seniman hingga saat ini. Jiuwei Hu (九尾狐 jiǔwěihú), Rubah Ekor Sembilan, selalu ditampilkan dengan ekornya yang melebar. Bifang (毕方 bìfāng), burung api berkaki satu, selalu berdiri dengan satu kaki dengan sayap terbentang. Pintasan visual ini menjadi bahasa bersama — cara bagi seniman selama berabad-abad untuk memberi isyarat tentang makhluk mana yang mereka gambarkan.
Renaisans Modern
Dimulai pada awal tahun 2000-an, generasi baru seniman Tiongkok mulai mengunjungi kembali Shanhaijing dengan teknik kontemporer. Ini bukanlah reproduksi barang antik — ini adalah penafsiran ulang yang membawa makhluk-makhluk dalam teks tersebut berdialog dengan seni fantasi modern, desain konsep, dan ilustrasi digital.
Pergeseran ini sebagian disebabkan oleh teknologi. Alat lukis digital memungkinkan seniman menampilkan sisik, bulu, efek atmosfer, dan pencahayaan dramatis dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh tinta di atas kertas. Tapi itu juga budaya. Kebanggaan baru terhadap warisan mitologi Tiongkok – yang dipercepat oleh kesuksesan novel, permainan, dan film fantasi Tiongkok – menciptakan pasar bagi seni Shanhaijing yang belum pernah ada sebelumnya.
Seniman seperti Shanhai Hua (山海画) dan kolektif yang berdedikasi pada ilustrasi mitologi Tiongkok mulai menghasilkan karya yang secara bersamaan sesuai dengan teks asli dan secara visual memukau menurut standar kontemporer. Makhluk yang dideskripsikan Shanhaijing dalam lima belas karakter kini dapat diterjemahkan sebagai makhluk sadar sepenuhnya yang menghuni suatu lanskap, dengan suasana hati, atmosfer, dan narasi tersirat.
Konsep Seni dan Saluran Permainan
Penerapan seni Shanhaijing yang paling signifikan secara komersial adalah dalam desain konsep video game. Game seperti Genshin Impact (原神 Yuánshén), Black Myth: Wukong (黑神话:悟空 Hēi Shénhuà: Wùkōng), dan Honor of Kings (王者荣耀 Wángzhě Róngyào) mempekerjakan seniman konsep yang pekerjaan utamanya menerjemahkan deskripsi mitologi kuno ke dalam desain karakter dan makhluk yang dapat dimainkan.
Proses ini membutuhkan kreativitas tertentu. Seniman harus menghormati materi sumbernya — sebuah Taotie (饕餮 tāotiè) harus dapat dikenali sebagai Taotie — sekaligus membuatnya berfungsi dalam bahasa visual video game modern. Itu perlu dibaca dengan jelas pada ukuran layar kecil. Siluetnya harus khas. Animasinya harus lancar. Untuk konteksnya, lihat Mitologi Tiongkok di Hollywood: Dari Mulan hingga Shang-Chi.
Hasilnya adalah putaran umpan balik yang menarik. Teks kuno menginspirasi seni modern, yang menginspirasi desain game, yang memperkenalkan jutaan pemain di seluruh dunia pada makhluk yang belum pernah mereka dengar — yang kemudian kembali dan membaca teks kuno tersebut. Shanhaijing tidak pernah memiliki pembaca sebanyak saat ini, dan alasan utamanya adalah seni konsep video game.
Budaya Tato dan Shanhaijing
Vektor tak terduga bagi seni Shanhaijing adalah industri tato. Makhluk mitologi Tiongkok — khususnya naga (龙 lóng), burung phoenix (凤凰 fènghuáng), dan Qilin (麒麟 qílín) — selalu menjadi subjek tato yang populer. Namun tren yang lebih baru melibatkan makhluk Shanhaijing yang lebih tidak jelas: Luduan (甪端 lùduān) yang mendeteksi kebohongan, Bai Ze (白泽 Báizé) yang mengkatalogkan semua makhluk gaib, Pixiu (貔貅 píxiū) yang menarik kekayaan.Desain tato ini diambil dari gaya ilustrasi klasik dan interpretasi ulang digital modern, menciptakan perpaduan visual yang tidak dapat dikenali oleh seniman Dinasti Ming tetapi sepenuhnya dapat dibaca oleh siapa pun yang mengetahui teks sumbernya.
Pertanyaan Keaslian
Setiap penafsiran ulang modern terhadap Shanhaijing menghadapi pertanyaan yang sama: seberapa setiakah Shanhaijing dengan aslinya? Teksnya sendiri hanya memberikan sedikit informasi visual. Ketika dikatakan bahwa makhluk itu "seperti anjing bermata manusia", bagaimana seharusnya seorang seniman mengartikannya? Haruskah hasilnya mengerikan (anjing realistis dengan mata manusia yang fotorealistik) atau bergaya (makhluk mirip anjing dengan ciri-ciri antropomorfik yang samar-samar)?
Seniman yang berbeda menjawab pertanyaan ini secara berbeda, dan ketegangan antara pendekatan literal dan interpretatif inilah yang membuat seni Shanhaijing tetap penting. Ilustrator klasik memilih kejelasan. Seniman digital modern memilih drama. Seniman tato memilih simbolisme. Desainer game memilih fungsionalitas. Setiap pendekatan mengungkapkan aspek-aspek berbeda dari sebuah teks yang telah terbukti tidak ada habisnya dalam dua milenium interpretasi visual.
Makhluk Shanhaijing tidak pernah dimaksudkan untuk ditembaki. Mereka dijelaskan dengan kata-kata secara tepat sehingga setiap generasi dapat membayangkannya secara baru. Itu bukanlah sebuah cacat dalam teks ini — ini adalah fitur terbesarnya.